Jumat, 08 Februari 2013

Peri Kecilku





“Dimass !!!”
“bangun mas !!” kata seseorang disebelah ku
“apa bu?” Tanya ku sambil bangun dengan sedikit malas
“keluar anda dari kelas saya !!” kata seorang dengan perwatakan sedikit buka batak dengan umur sekitar 40 tahunan.
Dengan sedikit lemas, aku pun bangun dari tempat duduk ku dan meninggalkan ruang kelas. Ini gara-gara semalam. Aku gak tidur semalaman habis nonton bola. Dan jam siaran yang di katakana stasiun sebuah televise tidak tepat seperti jam tayangnya. Katanya sih jam setengan 1 tengah malam, tapi nyatanya baru mulai jam 3 dini hari. Akhirnya aku pun gak bisa tidur. Mana lebih sialnya, Barca kalah telak lagi dari Real Madrid
Nama gua Dimas, aku saat ini sudah semester 5 disebuah perguruan tinggi di Jogjakarta. Aku biasa aja, gak terlalu pintar, tapi gak bodoh-bodoh amat. Sudah 2 tahun terakhir aku punya hubungan special dengan teman sekampus ku, tapi sampai sekarang kita belum pacaran. Entah apa yang membuatku tidak segera mengaknya pacaran. Aku lebih nyaman aja kayak gini. Kalau pacaran itu ribet, kelai terus. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku pacaran.
Mata ku masih berat, ku putuskan untuk ke parkiran menuju tempat parker mobil ku. Kunyalakan mesin, lalu ku nyalakan AC, dan Tape mobil ku dengan volume rendah. Ku bersandar di jok mobil dan memejamkan mata, berusaha untuk tidur lagi. Tapi tiba-tiba ..
“shit !!! apa lagi sih ??”
“halo ?? apa ???” Tanya ku saat mengangkat telpon di Iphone ku.
“yasudah, aku kesana !!” ternyata ade ku telpon. Bilang untuk menjemputnya disekolah.
Akhirnya ku putuskan untuk menjemput adik ku. Aku punya 1 adik perempuan. Namanya Laila. Dia saat ini kelas 3 sekolah dasar. Ya, benar !! aku dan adik ku  beda jauh banget usianya. Tapi aku sangat menyayanginya. Bokap nyokap terlalu sibuk untuk mengurusi kami berdua. Bokap yang bolak balik luar negeri untuk bisnisnya, serta nyokap yang lebih banyak ngabisin waktu di kantor.
“dimana ? kakak di depan gerbang” kata ku saat menelpon laila.
“kok tumben pulang cepat ?” kata ku saat laila masuk ke dalam mobil ku
“guru-guru rapat kak” kata adik ku
“kakak gak kuliah ?” Tanya adik ku
“gak ada dosen !!” ujar ku dengan sedikit berbohong
“kak, ke tempat mama yuuk” ajak adik ku
“ngapain sih kesana, bête tau dek. Palingan sampai sana mama sibuk” ujar ku
Laila gak menjawab. Dia hanya diam tertunduk. aku memang paling malas tempat nyokap.
“gimana kalau kita jalan aja yuk. Sama Jasmine” ajak ku
“sama kak jasmine ?” Tanya adik kui
“iya” jawab ku. Laila diam sejenak. Tak lama ia tersenyum. Bertanda ia setuju. Lalu ku telpon jasmine. Lalu mengajaknya jalan. Jasmine adalah sepupu ku. Lalu setelah mendapatkan persetujuan, aku pun meluncur kerumah jasmine. Sesampai disana, ku klakson mobil ku dan jasmine ternyata sudah siap.
“so, where we going ?” kata jasmine
“nonton aja yuk kak. Ada film baru” ajak laila
“ngapain ngelirik aku ? aku ikut aja, supir kan kamu !!” ujar jasmine sambil sedikit bergurau.
“aku setuju kok” jawab nya sambil tersenyum.
“sesampainya di studio XXI di daerah Jalan Solo, adik ku langsung menarik tangan jasmine dan langsung masuk ke dalam.
“nonton apa dek ?” Tanya ku kepada laila
“nyari yang jam selisih 1 jam dari sekarang ya. Kamu belum makan soalnya, kita makan dulu”
Laila hanya tersenyum.
“kalian pilih film aja dulu, aku ada telpon ini” ujar ku kepada jasmine dan laila sambil memberikan dompet ku kepada laila
“halo ? ada apa Sin ?” ternyata yang telpon adalah gebetan ku
“aku tadi ngantuk. Makanya ketiduran pas jamnya batak.” Ujar ku dengan sedikit menjauh dari adik ku. Takut ketahuan kalau aku bohong.
“habis nonton barca tanding semalam” ujar ku
“Nemenin laila nonton. Sama Jasmine sih.” Ujar ku lagi
“yaudah. Mau ikutan nonton ?” Tanya ku pada Sinta
“oh gitu. Yasudah, good luck !!” ujar ku. Lalu ku matikan telpon ku
“jam berapa nontonnya ?” Tanya ku pada jasmine.
“kita ngambil yang jam 3.” Kata jasmine
“ada selisih waktu 2 jam ya ? makan di kafe sini aja ya. Malas keluar aku. Ntar cari parkiran susah. Mana oneway lagi. Repot” kata ku
“film apaan yang kalian pilih ?” Tanya ku sambil memanggil pelayan dengan tangan kanan ku saat sudah duduk di salah satu tempat duduk di café XXI.
“film sedih ini kak !!” ujar laila
“apaan ? surat kecil untuk Tuhan ? tentang apa ceritanya ??” Tanya ku sambil membaca judul film pada tiket noton kami
“ituloh mas, cerita tentang anak yang kena sakit kangker gitu.” Ujar jasmine menjelaskan
“bagus gak ?” Tanya ku lagi
“bagus lah kak. Kan film dari kisah nyata juga” kata laila
Kayaknya efek ngantuk ku masih ada deh. Saat aku masuk studio entah karna dingin atau tempat ku nyaman, aku jadi mengantuk saat di dalam stusio. Ku lirik sebentar laila dan jasmine, mereka sibuk nangis, tapi aku ngantuk. Ku putuskan untuk tidur. Ku ambil posisi senyaman mungkin, lalu ku pejamkan mata. Tiba-tiba aku terasa dibangunkan. Ku buka mata ku, ternyata filmnya sudah selesai.
“kakak kok malah tidur sih ?” Tanya laila
“sejak kapan elu tidur ?” Tanya jasmine
“tadi terakhir liat yang pas apa ya ?? yang pas ……… yang teman-temannya tau kalau dia sakit !!” ujar ku sambil sedikit mengingat
“lama banget ?” kata laila
“orang namanya ngantuk dek” kata ku sambil berdiri dari bangku ku
Setelah megantar jasmine kembali ke rumah nya, aku pun langsung pulang. Saat sampai depan rumah kuliat mobil hitam BMW milik nyokap. Tumben pulang batin ku dalam hati.
laila pun keluar dari mobil saat aku selesai parkir. Ia lari dan teriak memanggil nyokap. Laila benar-benar merindukan nyokap ternyata. Ku ambil tas ku, dan ku bawakan tas sekolah milik laila yang masih di dalam mobil. Saat aku masuk ke dalam rumah, kenapa malah terdengar tangisan laila. Ku lempar ke dua tas yang ku bawa di sofa ruang tamu. Aku pun lari ke dalam, mencari sumber suara. Lalu kulihat laila sedan menangis sedangkan nyokap sudah lemas dengan ada darah yang tercecer di lantai serta pisau yang masih menempel pada perut. Ku peluk laila, berusaha menutupi darah. Aku gak mau, laila jadi trauma. Ku panggil pembantu ku, ia pun kaget melihat keadaan yang ada. Lalu ku perintahkan ia memanggil polisi, setelah itu menelpon bokap yang lagi di Hongkong untuk segera pulang. Sekitar 15 menit pun polisi datang, ku bawa laila ku kamar ku di lantai 2. Aku lebih memilih mengajak kekamar ku, karna kamar ku punya kamar mandi sendiri, menghindari laila keluar untuk ke toilet lalu melihat yang ada. Aku gak mau laila liat itu !! setelah ku suruh pembantu ku menggantikan baju laila, ku suruh laila untuk tidur dikamar ku saja. Setelah aku dimintai keterangan oleh polisi, lanjut pembantu ku. Saat pembantu ku di mintai keterangan, aku lebih memilih ke kamar ku. Melihat keadaan laila. Ku liat ia sedang berbaring di kasur sambil mata yang masih menangis.
“sudah dek, jangan nangis lagi” ujar ku kepada laila
“siapa yang tega ngelakuin itu ke mama kak ?” katanya sambil sedikit menahan menangis
“kakak gak tau,” kata ku dengan sambil mengelus rambut panjang milik laila
“tapi pasti ketahuan kok.” Ujar ku pada laila sambil tersenyum
“sudah, kamu tidur sini aja. Itu remote tv ada di laci kalau mau nonton. Kakak keluar dulu ya” kata ku sambil mencium kening laila
“pak, saya mau tau pelakunya secepat mungkin.” Kata ku saat menuruni tangga
“pasti dik. Tapi sebelum nya saya mau Tanya, apa ibu adik punya musuh ?” Tanya salah seorang polisi kepada ku
“saya kurang tau pak. Mama memang jarang pulang. Saya aja sempat kaget mobil mama ada di depan rumah. Biasanya kalau pulang pun tengah malan” ujar ku jujur
“begini dik, tadi saya sempat memeriksa kamar orangtua adik, dan saya menemukan surat pemberi tahuan promosi yang di terima korban. Dan tertanggal 2 hari yang lalu. Selain itu, tidak ada tanda-tanda penyiksaan pada tubuh korban. Selain itu tidak ada barang yang hilang atau tanda-tanda dirusak paksa. Jadi dugaan sementara, tersangka adalah orang yang sudah dikenal korban dengan baik.”
“saya kurang dekat dengan mama, pak. Mungkin bapak bisa kesini lagi besok. Papa saya sedang di hongkong dan dalam perjalanan kesini. Mungkin bapak bisa mendapatkan lebih banyak informasi pada papa saya. Tapi saya mohon, jangan bapak Tanya-tanya kepada adik saya laila. Dia masih syok liat mama kayak tadi.” Ujar ku kepada polisi tersebut
“baiklah kalau begitu, saya akan kembali besok lagi. Permisi. Selamat malam” kata polisi tersebut
aku masuk kekamar lagi. Melihat keadaan laila. Ku pandang lalila. Dia sudah tertidur ternyata. Ku pandangi adik ku sejenak. Lalu mata ku tertuju pada meja sebelah tempat tidur. Ada selembar kertas. Lalu ku baca, ternyata itu tulisan laila.

Untuk Tuhan,
            Tuhan, kenapa kau mengambil mama laila secepat ini ? laila sayaaaang banget sama mama. Apa semua yang laila sayang pasti Tuhan ambil ? dulu Chukki, sekarang mama. Apa nanti Tuhan akan mengambil kak Dimas ? Laila mohon, jangan ambil kak Dimas. Laila sendirian. Laila takut Tuhan. Lebih baik, Tuhan memanggil Laila aja. Laila disini hanya bisa menyusahkan kak Dimas sama bibi. Dan Laila pun mau lebih dekat dengan mama. Mungkin disana mama gak akan kerja dan akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan laila. Tuhan, ambil Laila aja.


Salam Sayang.
Annalayla Hamburg William


            “aku gak tau harus kayak apalagi Sin” kata ku kepada sinta sambil memberikan surat tersebut pada Sinta
            “laila masih kecil, tapi sudah sampai berpikir kayak gitu !!” ujar ku
            “laila emang masih 9 tahun, tapi dia sudah dewasa sepertinya mas. Dia pintar, terus dia gimana ?” Tanya sinta
            “dia disekolah, aku gak mau dia liat lagi rame-rame dirumah, liat mamanya mau di kuburkan. Sepulang sekolah, aku menyuruh Jasmine untuk mengajaknya jalan-jalan” jawab ku
            “lebih baik, biarkan dia dirumah deh. Paling enggak liat mamanya untuk terakhir kali.” Ujar sinta memberi saran
            “tapi aku gak tega sin liat dia nangis lagi”

Chukki : anjing peliharaan milik Laila
            “tapi kamu mau liat dia, kesan terakhir liat mamanya berdarah-darah gitu ?” kata sinta
            “biarkan dia liat mamanya untuk terakhir kali, mas” kata Sinta lagi
            Akhirnya ku putuskan untuk menjemput laila sekolah lebih awal. Lalu ku biarkan dia melihat nyokap untuk terakhir kalinya. Walau sebenarnya aku gak tega lihat dia menangis lagi. Tapi mungkin sinta benar, itu yang terbaik buat laila.

2 Minggu kemudian


            “dek, gak ada yang lupa ?” Tanya ku kepada laila saat di parkiran rumah saat akan pergi
            “apa lagi kak ?” Tanya laila
            “tempat makan mu pikuuuuuun !!” jawab ku sedikit gemas
            “ohiya” katanya sambil tersenyum
Sudah lama aku gak melihat senyum itu dari laila semenjak nyokap meninggal. Selama berhari-hari aku melihat laila menangis, tapi pagi ini aku melihatnya sudah tersenyum kembali. Sambil menunggu laila, ku baca Koran pagi ini. Ternyata ada berita nyokap yang dimuat ,,

Tersangka pembunuhan oleh korban Nadine William telah di temukan. Tersangka pembunuhan sendiri dan tak lain adalah sekertaris pribadi GM sebuah perusahaan swasta itu. Pembunuhan itu di dalangi oleh SA yang tak lain adalah teman seperusahaan yang iri dengan kesuksesan Nyona GM …

“Sudah dek ?”  Tanya ku sambil melempar Koran pagi ke bangku belakang
“untung aku punya kakak yang gak pikun” senyumnya sambil melirik kearah ku
“oya, tadi malam papa telpon. Katanya besok, kita weekend bareng. Papa pulang ntar sore sampe jogja” kata ku sambil memberi informasi
“iya kak ? kakak gak bohong kan ??” Tanya laila histeris
“iyaaaa !! papa juga nyuruh jasmine buat ikut.” Kata ku sambil melirik ke laila
“yey !!!” teriak senangnya

“handuk sudah, sikat gigi juga sudah !!” ujar laila saat mempersiapakan perlengkapan campingnya.
“sibuk banget sih kamu” ujar ku saat mengintip laila di kamar
“ntar ada yang lupa takutnya kak !!” ujar nya
“sudah, ayok makan malam dulu. Itu papa baru datang, ada jasmine juga !!” kata ku
“2 menit lagi laila turun deh kak !!” katanya
“yaudah.” Kata ku sambil tersenyum dan menutup pintu kamar laila
“dia lagi sibuk itu pa.” ujar ku saat sampai di meja makan
“katanya dia turun 2 menit lagi. Udah makan yuk. Laper aku !!” ajak ku

“laila mana ? kita sudah selesai makan gini, dia belum turun juga” kata bokap
“iya, laila mana mas ?” Tanya jasmine
“gak tau pa, aku panggil dia lagi deh !!” ujar ku
“aku aja mas, aku mau ngejailin dia” kata jasmine
“oooooooooom !!!! dimaaaas !!!!!” teriak jasmine dari lantai 2
Aku pok reflek langsung lari.
“kenapa ?” Tanya ku kepada jasmine
“laila !!” ujarnya sambil menunjuk sosok yang tergelatak lemas di lantai
“dek ?? bangun !! adek !!!” ujar ku sambil berusaha membangunkan laila
“ada apa ??” Tanya bokap sampai depan pintu kamar laila
“laila, pa !!” teriak ku
“papa siapkan mobil, kamu gendong adik ku kebawah” ujar papa
Pikiran ku tak menentu. Melihat keadan adik ku seperti ini. Aku hanya bisa memeluk laila selama perjalanan kerumah sakit. Jasmine duduk didepan, serta bokap yang menyetir mobil. Sesampainya dirumah sakit, laila pun diperiksa oleh dokter. Aku jasmine dan bokap hanya bisa menunggu di luar UGD. Ku lihat jam tangan ku, ternyata sudah jam 7.45 PM. 15 menit kemudian seorang dokter keluar, dan hanya ingin berbicara berdua dengan bokap. Entah apa yang di bicarakan mereka. Tapi tiba-tiba bokap seperti terkejut, setelah itu, bokap dudu di bangk. Aku pun mendekatinya.
“laila kenapa pa ?” Tanya ku
Bokap hanya diam. Seperti bingung mau bilang apa
“pa, laila kenapa ? dimas berhak tau keadaan laila” Tanya ku lagi
“laila kena kangker paru-paru” kata bokap yang langsung membuat ku kaget setengah mati
“tapi laila kelihatan sehat pa, dokter itu salah pa !!” ujar ku
“papa, gak tau mau ngomong apa mas !!” ujar bokap
Aku pun lari keluar rumah sakit, sesampainya diluar, aku pun berteriak sekeras yang ku mampu !! aku mau nangis, aku gak tau kayak apa lagi. Tiba-tiba aku mengingat kenangan ku dengan laila. Aku ingat jelas saat pertama kali masuk TK, aku lah yang mengantarnya. Pertama kali masuk SD, aku lah yang mengantarkannya. Berbelanja bersama aku dan dia. Aku sibuk dengan laila, aku sibuk mengurusinya. Bahkan aku lupa untuk mengurusi diriku sendiri. Sejak kelahiran laila 9 tahun yang lalu, aku sibuk dengan laila. Bahkan sejak bokap sama almarhumah nyokap sibuk, aku lah yang mengurusinya. Bahkan aku kelai dengan mantan-mantan ku dulu karna aku sibuk dengan laila. Dia sudah menjadi peri kecil ku. Dia memang peri ku. Dia cantik, dia juga lah yang sudah member ku senyum. sudah lama aku gak ngerokok, tapi mala mini aku ngerokok lagi. Terakhir aku ngerokok sepertinya SMP. Dan itu aku berhenti karna aku gak mau buat laila batuk, laila memang aleri asap rokok.
Malam ini, aku benar-benar bingung. Tak terasa sudah ku habisnya 11 batang rokok kurang dari 2 jam. Aku benar-benar bingung. Pikiran ku gak tau kayak apa.
“dimana ?” Tanya ku saat menelpon Sinta
“aku ganggu kamu ya ?” Tanya ku lagi
“besok aku gak ke kampus.” Ujar ku singkat
“gak kenapa-kenapa. Aku pingin mati aja” kata ku dengan apa adanya
“iya, ini aku serius. Aku mau mati aja” ujar ku sambil menghirup asap rokok ku yang ke 12
“sebenarnya ada yang mau ku ceritakan. Tapi kayaknya nanti aja” kata ku
“gak usah. Nanti aja” ujar ku
“sudah, kamu tidur aja. Malam” ujar ku sambil mematikan pembicaraan di telpon
Ternyata ada sms, dan itu dari Jasmine

From : Jasmine
Kamu dimana ? laila sudah sadar !!

Setelah aku mendapat kabar laila sadar, aku pun segera ke kamar laila di rumah sakit tersebut. Saat akan masuk kamar, ku lirik kaca depan pintu ruangan laila. Ku pandang laila sedang bercanda dengan Jasmine dan keadaannya terlihat sehat. Aku hanya berharap dokter tadi, salah saat memeriksa laila.
“kakak dari mana ?” Tanya laila saat aku memasuki ruangan
“dari minimarket bawah, beli softdrink” jawab ku
“kak, bantuin ngomong nah sama papa. Laila mau pulang. Laila gak bebas dirumah sakit” ujar laila
“gak boleh, dek. Ikutin kata papa !!” kata ku
“gara-gara laila, kita gak jadi camping deh !!” katanya sambil menunduk
“sudah, ntar kalo sudah pulang kita camping. Oke ?” Tanya ku
“janji ?” tanyanya sambil tersenyum khas ala laila
Aku hanya tersenyum.
Ku lirik jam tangan ku, jam tangan ku sudah menjukan pukul 2.05 dini hari. Ku lihat laila sudah tidur terlelap. Bokap yang baru saja tidur. Dan jasmine yang sudah tidur dari tadi di tempat tidur untuk pengunjung yang disediakan. Aku berusaha tidur disebelah laila, tapi sudah. Ku baringkan kepala ku di tempat tidur laila. Tak tak lama, aku pun tertidur juga

Keesokan paginya, saat aku terbangun laila dan bokap sudah gak ada. Dan jasmine yang baru saja keluar dari toilet.
“papa sama laila mana ?” Tanya ku
“tadi laila mau di CT SCAN. Palingan bentar lagi datang. Sudah lama kok diluar. Oya, aku mau balik dulu ya. Ada kuliah jam 12” ujar Jasmine
“ku antar ?” Tanya ku
“gak usah, mending kamu telpon balik Sinta. Tadi dia nelpon. Aku yang angkat” katanya
“halo ?” ujar ku saat menelpon Sinta
“aku dirumah sakit.” Kata ku
“bukan aku, tapi laila” ujar ku
“gak usah, jangan disini” kata ku saat sinta mengajak ketemuan
“gini aja, ini aku keluar sekarang jemput kamu di kampus. Kita cari tempat makan sekalian. Aku belum sarapan” ajak ku
“oke. See you !!” kata ku saat menutup pembicaraan

“iya aku serius, itu yang dibilang dokter” kata ku saat membicarakan semuanya kepada Sinta
“aku gak tau kayak apa lagi sin,” tambah ku
“lailanya sudah tau ?” Tanya sinta
“belum. Tadi pagi diadakan CT SCAN, dan itu hasil finall nya” ujar ku
“jujur aja, aku gak tau mau bilang apa. Soalnya aku belum pernah ngalamin itu” katanya sambil memegang tangan ku
“tapi kamu harus kuat. Kamu gak boleh lemah di depan laila. Kamu satu-satunya yang dekat dengannya kan saat ini ?” tambahnya
“thanks sin” ujar ku
“aku gak habis pikir aja, laila itu terlihat baik-baik aja, tapi kenapa tau-tau dia bilang kena kangker” Tanya ku
“aku pernah denger dari anak kedokteran lain, katanya gini penyakit yang mematikan itu biasanya gak akan terlihat. Tapi dirasakan. Dan biasanya apabila lingkungan sudah melihat keadaan yang berbeda, tanda nya penyakit itu sudah di tahap yang berbahaya” katanya
“jadi maksud mu, selama ini laila menyadari dia sakit tapi gak mau kasih tau ?” Tanya ku
“tepat !!” jawab sinta singkat
“aku tau mas, mungkin maksudnya hanya biasa dan gak parah. Makanya mungkin dia gak kasih tau ke kamu” ujarnya
“aku Cuma pingin dia sembuh” ujar ku dengan nada datar
“dimas, mungkin ini jawaban dari surat laila” kata sinta
“maksud mu ?” Tanya ku
“masih ingat isi surat laila saat mama mu meninggal ?” Tanya sinta
“kangker susah di sembuhkan. Biasanya memang diberikan obat. Tapi obat itu bukan menyembuhkan. Obatnya hanya membuat dia merasa baikan. Satu-satunya cara yaitu mengangkat kangker langsung dari sumbernya. Tapi itu mustahil atau dengan cara kemoterapi. Tapi itu malah menyiksa laila, dan presentase kesembuhan nya sangat kecil. Mungkin biarkan laila mendekati mama mu, mas !!” ujar laila.
Aku gak bisa menyalahkannya. Sinta mahasiswa kedokteran, ia lebih tau serta aku hanya mahasiswa Teknik.
Saat aku kerumah sakit, laila sedang tidur.
“tes tadi pagi gimana pa ?” Tanya ku
“hasilnya positif. Dan dokter menyarankan untuk di operasi. Tapi operasi itu bukan menyembuhkan, hanya untuk mengurangi sakitnya. Kangkernya terlanjur sudah menyebar di tubuh laila” ujar bokap
“mungkin, mama kangen  sama laila, pa” ujar ku dengan nada pelan dan datar
Papa tidak menjawab, namun ia melirik ku dengan penuh arti. Sejenak kami berdua hanya terdiam.
Mama sudah 2 minggu meninggalkan kita, dan baru akhir-akhir ini laila bisa tersenyum yang sebelumnya ia sedih terus. Mungkin benar perkataan sinta. Tuhan telah menjawab surat laila.
Saat laila bangun dari tidurnya, barulah papa memberitahu yang sebenarnya. Dia gak nangis. Itu yang aku kagetnya, laila seperti sudah tau.
“udah pa, laila gak papa kok. Mungkin mama sudah kangen sama laila” ujarnya
Anak usia 9 tahun sudah berpikir seperti itu ?? aku gak habis pikir, kenapa dia begitu dewasa ??
“kakak sudah ada janji looh ngajak camping !!” ujarnya tiba-tiba
Aku hanya tersenyum saat ia berkata seperti itu.
“sudah pa, buat apa laila lama-lama disini ? laila gak betah. Laila mau pulang aja” ujarnya
“sudah pa, gak usah sedih. Semua umat kan akan meninggal ? mungkin ini cara laila meninggal. Laila juga sudah kangen mama sama chukki” katanya lagi
Keesokan harinya, laila pun pulang kerumah. Sesampainya di rumah laila pun langsung menagih janji ku. Akhirnya ku putuskan untuk mengajaknya camping akhir pekan ini di daerah Kaliurang. Ia begitu bersemangat
“jadi mau camping ?” Tanya sinta kepada ku saat aku mengantarkannya pulang dari kampus
“iya. Mau ikut ?” Tanya ku kepada sinta
“sorry, aku gak bisa. Aku harus ke lab” jawabnya singkat
“oh gitu” ujar ku
“titip salam aja buat laila ya” katanya kepada ku
“oke kalau gitu” ujar ku
Seperti hari yang sudah di tentukan sebelumnya, hari ini adalah hari diamana camping time. Ku lihat laila begitu senang. Tapi aku jujur saja sedikit berat. Sejak semalam keadaan laila kurang baik. Wajahnya pucat. Aku mengajaknya ke dokter, tapi ia menolak. Karna ia takut, campingnya tertunda lagi. Namun ia berjanji, setelah camping ia mau di ajak ke rumah sakit.
Setelah semua sudah siap, kami berempat berangkat. Selama perjalanan laila hanya diam. Diam sambil melihat kearah luar jendela mobil. Sesekali ia berbincang dengan jasmine. Ku pandang laila dari kaca spion. Ku lihat dia tersenyum. Wajahnya tetap pucat. Aku khawatir akan terjadi sesuatu kepada laila.
Sesampainya di daerah Kaliurang, ku parker mobil ku di salah satu tempat parkir. Jasmine membawa beberaoa tas, serta bokap membantu bawaan tas laila.
“bawa apa aja dek ? banyak amat ??” Tanya ku kepada laila
“ini lengkap tau kak” jawabnya sambil melirik ku
“lengkap apaan ?” Tanya ku lagi
“leng ..”
“dek, kita balik aja yuk !!” ujar ku saat mengetahui ada hal yang gak benar terjadi
“laila gak kenapa-kenapa kok kak” jawabnya sambil mengelus dada. Sepertinya laila sedikit sesak pada pernafasaannya
“tapi dek”
“kakak sudah janji. Dan kita sudah sampai kak !!” ujarnya memaksa
“lagian laila bawa obat kok” katanya sambil meyakinkan ku
“kalo sudah gak tahan, bilang ya ?” ujar ku
Dia hanya tersenyum.
“disini, kita hanya perlu berjalan sebentar. Kamu kuat laila ?” Tanya bokap kepada laila
“iya, pa. laila gak kenapa-kenapa kok” jawabnya santai
Perjalanan tidak memakan waktu yang lama. Sekitar 15-20 menit kami pun sampai. Dengan bantuan Jasmine, laila mendirikan tenda. Ku harap laila baik-baik saja. Hanya semalam ujar ku. ‘Besok pagi aku akan langsung membawanya ke rumah sakit’ ujar ku dalam hati. Menjelang sore, jasmine mulai menyiapkan untuk makan malam.
“mas, tolong ambilkan kayu bakar lagi dong. Takutnya gak cukup buat api unggun malam nanti” ujar Jasmine
“butuh banyak ?” Tanya ku
“yaa lumayan lah” jawabnya
“kak, laila mau ikut” ujar laila
“ambil jaket mu dulu kalau gitu dek. Mulai dingin suasananya” kata ku
Laila langsung masuk ke dalam tenda hendak mengambil jaket.namun ia tidak langsung keluar. Akhirnya aku pun menyusulnya ke dalam tenda. Dan mendapatinya ia tergeletak tak sadarkan diri. Ku angkat badan mungilnya menuju mobil. Bokap dan Jasmine pun bergegas mengikutiku. Aku menyetir seperti orang kesurupan. Ku kendarai mobil ku hingga nyaris 95 Km/Jam. Aku takut keadaan yang buruk akan terjadi pada laila.
Sesampainya di sebuah rumah sakit terdekat, bokap pun mengendong laila menuju kedalam rumah sakit. Kami bertiga disuruh menunggu di ruang tunggu. Aku gak mau laila kenapa-kenapa. Dokter keluar, dan ia berkata Laila sudah gak ada.
Saat ku memasuki UGD, ku liat laila tersenyum. Sepertinya ia sudah bertemu mama. Air mata ku akhirnya keluar. Sosok yang ku sayang akhirnya sudah pergi. Pergi menyusul mama.
“sudah ketemu mama dek ??” Tanya ku disela tangis ku
“kamu, satu-satunya orang yang ku sayang. Makasih dek, sudah memberi kakak pelajaran yang besar buat kuat menghadapi masalah” ujar ku sambil memeluk badannya yang tergeletak kaku
“kamu senangkan liat laila senang, mas ?” Tanya sinta saat ia datang kerumah
“dia bahagia mas. Laila sudah ketemu mama mu. Jangan kamu buat dia sedih karna sudah melihat kamu sedih” ujar sinta
Aku hanya diam. Mungkin benar yang di katakannya.

BEBERAPA HARI KEMUDIAN

“pagi bu. Maaf saya terlambat” ujar ku saat memasuki ruang kelas
“kapan kau bisa datang tepat waktu ??” Tanya dosen ku dengan logat bataknya yang khas
“tadi bangun telat bu, besok kalo datang lagi ontime deh bu. Plus gak tidur di kelas lagi” ujar ku sambil sedikit meyakinkan dosen killer ku
“sampai kau telat lagi, tak ku izinkan kau masuk !!” kata dosen ku
“iya bu. Makasih” ujar ku langsung duduk.
Ku buka buku kuliah ku, ku pandangi sejenak pelajaran-pelajaran membosankan ini. Tapi aku pingin cepat-cepat wisuda. Aku kaget saat membaca halaman kosong buku kuliah ku. Ada tulisan yang gak asing buat ku. Itu tulisan laila ..


Buat : Kak Dimas yang ganteng dan baik
Maaf kak, ngotorin halaman bukunya kakak.Laila juga mau minta maaf. Sebenarnya selama ini laila gak pernah minum obat yang dikasih dari dokter.
Habisnya pahit. Mana banyak lagi. Tapi kakak jangan marah yaa ..
Laila hanya kangen sama mama
Laila juga kangen sama si Chukki
Jadi kakak jangan marah ya sama Laila
Salam sayang dari adik kakak yang paling cantik
Laila <3



Aku hanya berkata “kakak gak marah dek, asal laila senang disana”




SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar