Senin, 11 Februari 2013

Dibawah Nama Tuhan






Gak banyak perbedaan pagi ini. Tetep bangun tidur, masih di kasih nafas. Terus pergi sekolah. Dan di sekolah pun banyak guru yang gak masuk kekelas. Hanya guru-guru tertentu yang masuk kelas. Seperti guru matematika, kimia, dan bahasa Indonesia. Sisanya nihil masuk kekelas.
Aku Jenitha. Duduk di kelas 3 sekolah menengah kejuruan di salah satu kota ku. Aku termaksud bukan siswa yang istimewa. Otak ku gak dewa seperti salah seorang temen sekelas ku. Aku juga gak cantik seperti teman ku Anita. Aku juga bukan orang yang dibilang berlebih. Aku hidup berkecupan. Tapi aku tomboy. Dari kecil aku memang lebih banyak berteman dengan laki-laki. Entah apa yang membuat ku nyaman. Tapi menurut ku berteman dengan laki-laki lebih menyenangkan dari pada perempuan. That’s my opinion !!
Aku duduk dengan seorang salah sahabat ku Lucky. Dia agak playboy. Bisa dibilang ganteng tapi rada bodoh. Kedua teman ku lainnya yang duduk dibelakang ku adalah Aria, sahabat ku satu ini kelakuannya jangan ditiru ya. Hobbynya tauran. Minum-minum dan nyaris ngobat. Untung aja ada Lucky yang menyelamatkan dia. Aku gak habis pikir aja. Padahal, Aria adalah anak seorang pendeta. Satu lagi sahabat ku, serta yang aku taksir dari lama Justin. Dia laki-laki idaman ku banget. Dia juga sahabat ku dari kecil. Dia dewasa, tampan, pintar, murid kesayangan guru dan yang membuat ku terpesona dengannya adalah matanya. Kayak di film-film, matanya seperti mengeluarkan cahaya yang membuat ku terpesona dengannya. Dia Penganut Kristiani T.U.L.E.N !!! itu juga yang membuat ku berat dan berusaha melupakannya hingga saat ini. Semua teman teman ku penganut kristiani. Di antara kami berempat aku adalah satu-satunya perempuan dan satu-satunya seorang muslim. Namun aku berteman dengan semua Jenis orang. Aku tidak memilih teman-teman.
Seperti biasa apa bila sudah mendekati jam pulang sekolah dan gak ada tanda-tanda guru bakalan datang aku memilih pulang.
“pulang kah Jen ?” sapa seseorang dari arah belakang
“iya.” Jawab ku setelah menoleh dan mengetahui siapa yang bertanya yang ternyata adalah Justin.
“pulang sama siapa ?” tanyanya kepada ku
“minta jemput orang rumah!!” jawab ku sambil merapikan buku-buku pelajaran di meja ku
“ku antar ajakah ?” tanyanya menawarkan diri.
“gak usah tin, malah ngerepotin lagi” jawab ku basa basi sambil melihat ke arahnya
“biasa aja kali Jen, orang aku sudah nganggap kamu kayak sodara sendiri.” Jawabnya sambil duduk di bangku depan ku.
‘sodara ??? aku gak mau sodara. Aku suka sama dia. Aku menginginkan yang lebih’ . teriak ku dalam hati
Seandainya saja aku baru mengenal dia saat ini, mungkin ini semua gak bakalan terjadi. Orangtua ku dan Justin adalah partner kerja. Sejak kecil juga aku dan dia di sekolahkan bersama. Orang tua ku mempunyai bisnis yang dikelola bersama keluarga Justin. Aku dan Justin memang dulu bertetangga. Tapi semenjak ayah Justin meninggal, ibunya lebih memilih menjual rumahnya dan membeli rumah yang lebih kecil. Tidak sebesar sebelumnya.
“gak usah tin. Aku minta jemput orang rumah aja kok. Lagian kan rumah kita arahnya berlawanan.” Jawab ku menghindari ajakan dia
“bener ?” tanyanya meyakinkan ku dengan matanya menatap mata ku
“iya gak papa” jawab ku sambil buang muka pura-pura mau mengenakan jaket. Aku memang paling gak tahan liat matanya Justin.
“yaudah deh kalau gitu, duluan yaa!!” ujarnya sambil tersenyum dan mulai meninggalkan aku sendirian.
Aku tersenyum sambil teriak dalam hati. Aku masih gak habis pikir aja. Dia mengganggap ku saudara ? aku berbicara dalam hati dan membahas ‘saudara’ ala Justin. Tiba tiba aku tersadar perjalanan ku dari kelas hingga depan gerbang sekolah. Aku mulai bingung. Aku pulang sama siapa ? aku kan gak ada yang jemput. Dirumah kan gak ada orang. Ku ambil handphone di kantong seragam sekolah ku. Ku pandangi seJenak list nama-nama di buku telpon. Gak ada satu yang bisa ku harapkan bisa mengantarkan ku pulang.
Mata ku mulai menatap ke depan. Dari jauh terlihat sosok yang sudah ku kenal sekali. Itu Lucky !!! aku pun berlari ke pinggir jalan berharap Lucky melihat ku dan mau mengantarkan aku pulang. Aku hanya melambai lambaikan tangan, ‘semoga ia melihat ku’ ujar ku dalam hati. Syukur lah ia melihatku. Ia dekatkan sisi sebelah kanan mobilnya di depan ku. Dibuka kaca mobil dan “kenapa ??? ribut betul perasaan” ujarnya membuat ku kesal
“antarin pulang nah !!” bujuk ku
“kemana motor mu ?” tanyanya kepada ku
“kan tadi bawa cpu. Mana bisa aku bawa motor sambil bawa cpu.” Jawab ku datar sambil tetap berharap ia mau mengantar ku pulang
“tadi pergi sama siapa emangnya ?” tanyanya lagi
“sama Justin” jawab ku
“kenapa gak pulang sama dia lagi ?”
“gak enak, aku kebanyakan ngerepotin dia. Ayo naaa sekali aja kamu bantuin aku ky, aku sering bantuin kamu looo” bujuk ku
“jadi bantuin selama ini gak iklas ?” Tanya nya menjebak ku
“bukan gitu …”
“ayo masuk !!” ajaknya sambil memotong pembicaraan ku
“makasih ya !!” ujar ku sambil duduk di bangku mobil depan sambil mencoba memasang seatbelt.
“iya!!” jawabnya sambil mematikan mesin mobil dan mengambil iphone nya di saku celana
“kok malah matiin ?” Tanya ku bingung
“bentar !!!! mau sms lisa sebentar.” Jawabnya
“lisa ?”
“iya. Anak sekertaris kelas 2” jawabnya
“yang keberapa dia bulan ini ?” Tanya ku ceplos
“baru ke 3” jawabnya datar sambil tersenyum sekilas kepada ku
“aku ganggu kamu sama lisa kah ?” Tanya ku gak enak kepada Lucky
“santai aja Jen. Rencana ini juga mau kuputusin kok” jawabnya santai
“kapan sih kamu insyaf gak jadi playboy lagi ky ?” Tanya ku sambil meliriknya matanya di balik kaca mata -1 miliknya
Dia gak menjawab. Sejenak terdiam. Aku tau, dia gak mau membahasnya. Aku sudah kenal dekat dengannya. Dia teman sebangku ku dari kelas 2
“makan bentar ya. Mama ku gak masak” ujarnya setelah sekian lama aku dan dia diam-diaman di dalam mobil.
“aku ?” Tanya ku
“kamu kayak baru kenal aku aja sih Jen ? ku traktir !!” jawabnya sambil mencoba menyalakan mobil
Aku tak menjawab. Aku hanya tersenyum dan duduk bersandar di sova mobil kesayangan Lucky.
Entah dia mengajak ke kemana. Sesekali aku berusaha bertanya namun gak ada jawaban. Entah dia sedang melamun, kosentrasi membawa mobil atau tidak dengar karna suara tape mobilnya yang terlalu di setel terlalu keras.
Kurang lebih sudah 20 menit dalam perjalanan tanpa macet. Dia menyuruhku untuk meninggalkan saja tas ku didalam mobil. Dia mengajak ku ke sebuah café yang aku tau, itu tempat makan yang makanannya mahal-mahal.
“buat dua orang mba!!” jawabnya ke seorang pelayan yang berjaga di depan café. Dan pelayan itu membawa ku dan Lucky ke lantai 2 di café tersebut. Di berikan buku menu makanan. Dan benar !! satu menu makan untuk menu yang biasa saja di patok seharga 34.064 ribu rupiah. Dan harga minuman air mineral 7.370 ribu rupiah. Aku masih sibuk melihat menu makannan. Mencari siapa tau ada makanan yang seharga 15ribu sama minum. Ku balik balikan buku menu dan ..
“pesen apa Jen ?” Tanya Lucky tiba-tiba yang membuat ku kaget
“mmm, kamu pesen apa ?” Tanya ku
“aku pesen lemon tea sama steak daging domba setengah matang.” Jawabnya.
“aku ???? sama deh. Tapi minumnya air mineral aja” jawab ku sambil melirik ke arah Lucky
Pelayan tadi terlihat sexi. Dengan baju ala pelayan, rok di atas lutut dan baju super ketat, aku tau membuat Lucky si playboy tertarik. Tak lama pelayan meninggalkan meja makan ku dan Lucky, Lucky pun berdiri dan mendatangi pelayan tadi. Entah apa yang dibicarakannya. Tapi sesekali pelayan itu tersenyum dan tertawa kecil. Dasar playboy !!  ujar ku dalam hati. Setelah menunggu -/+ 10 menit pesanan kami pun sampai. Lucky pun meninggalkan pelayan tersebut dan kembali ke meja makan.
Setelah makan dan Lucky membayar, ia pun mengantarkan ku pulang seperti janji sebelumnya kepada ku. Dan sesampainya depan rumah ku, aku tercengang kaget. Ada motor yang terpakir di halaman rumah ku dan aku sudah sangat mengenali motor tersebut. Yang tak lain dan tak bukan adalah motor Justin.
“itu motornya Justin kan ?” Tanya Lucky kepada ku tiba-tiba
“iya” jawab ku singkat
“aku mampir ya !!” ujarnya kepada ku. Padahalkan aku gak menawarkan diri.
Tapi aku gak enak dengannya. Dia sudah mau mengantarkan ku pulang sampai mentraktir makan segala, akhirnya ku putuskan “iya. Mampir sudah !!”
“assalamualikum” ujar ku sambil mau masuk ke dalam rumah. Dan ada Justin di ruang tamu. Justin tidak sama sekali melirik ke arah ku. Dia malah lebih tertarik melihat kearah belakang ku. Ada Lucky disana.
“hey bro !!” sapa Lucky kepada Justin
Justin hanya tersenyum
“sudah lama di rumah tin ?” Tanya ku
“yaa setengah jam yang lalu lah.” Jawabnya singkat kepada ku.
“aku mau ganti baju dulu. Kamu sini aja !! ngapain ikut ??” Tanya ku kepada Lucky
Dia hanya nyengir tak menjawab.
Setelah ganti baju, aku pergi kedapur dulu. Membuatkan minuman kepada tamu tak di undang Lucky. Tiba tiba ada orang yang menepukan pundak ku
“katanya di jemput orang rumah ??” Tanya Justin tiba-tiba
“jadi dia orang rumahnya ?” tanyanya lagi
“tadi rumah kosong tin. Aku lupa!!” jawab ku jujur kali ini
“alah, bohong lagi itu”
“enggak” jawab ku jujur
“tadi aku kerumah mu, ada mama mu kok” katanya pada ku sambil duduk di meja makan
“aku gak tau !!” jawab ku lagi
“lain kali, kalo emang kamu mau jalan ma Lucky bilang aja. Aku gak marah kok !!” ujar Justin kepada ku sambil meninggalkan ku di dapur seorang diri lagi. Ku bawa secangkir teh ke ruang tamu. Disana ada Lucky yang lagi duduk seorang diri
“gak usah repot-repot lagi Jen” ujarnya kepada ku
Aku gak menjawab. Aku lebih memilih diam. Aku gak habis pikir kalo Justin berkata seperti itu tadi. Pikiran ku sudah kemana mana. Berpikir Justin sudah mengira aku dan Lucky ada hubungan lebih.




Setelah Lucky pulang, di susul Justin dan ibunya pulang aku lebih memilih untuk dikamar. Membuka buku pelajaran. Hanya membuka, tidak membaca atau pun bahkan mempelajarinya. Pikiran ku buyar, sejak Justin berkata “lain kali, kalo emang kamu mau jalan ma Lucky bilang aja. Aku gak marah kok !!” entah kenapa. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Ternyata ada pesan darii Lucky.

From : Lucky
13-2-2009/7.46pm
Jen, besok aku liat tugas matematika mu ya.
Aku belum sama sekali ngerjain soalnya
Oya, besok mau nemenin aku gak habis pulang sekolah ?


to : Lucky
13-2-2009/7.48pm
Mau kemana ?


From : Lucky
13-2-2009/7.51pm
Ntar juga kamu tau !! yayayaa ?




Ke esokan harinya pun seperti biasa, tapi yang berbeda adalah saat aku baru selesai sarapan, bel rumah ku berbunyi. Mama pun segera membuka, dan ternyata Lucky.
“kenapa ?” Tanya ku datar
“jemput kamu lah !!” jawabnya
“aku gak minta di jemput !!” ujar ku
“emang iya, aku mau jemput kamu aja. Kan ntar sore kamu mau nemenin aku pergi. Jadi yaa sekalian jemput aja biar gak repot” jawabnya.
“yasudah, tunggu di mobil sanaa !!” usir ku
“ma, ade berangkat dulu yaa !! assalamualaikum” teriak ku di depan pintu
Di dalam mobil pun, hanya diam-diam saja. Entah aku terasa asing. Lucky seperti kaku. Entah kenapa
“kamu kenapa ?” Tanya ku
“kamu suka aku gak ?” tanyanya langsung tanpa basa basi
“kamu sakit ky ?” Tanya ku bingung
“aku sehat !!! aku Tanya, kamu suka gak ma aku ?” tanyanya lagi
Aku hanya terdiam. Aku lebih memilih melihat kea rah luar Jendela mobil. Sebelumnya aku belum pernah diginikan. Ada orang yang bertanya kepada ku apakah aku mencintai dia.
“kamu salah orang ky, aku tau siapa kamu. Kamu mungkin hanya suka  sama aku sesaat aja.” Jawab ku datar
Lucky hanya terdiam. Jalanan macet. Ini memang jam sibuk. Di dalam mobil pun senyap. Tidak ada suara apapun. Tape mobil pun tidak menyala.
“ntar sore emang mau kemana ?” Tanya ku agar menghilangkan suasana kaku
“gak usah Jen” jawabnya dengan nada pelan. Terdengar seperti suara kekecewaan
“ky, kamu gimana sih ????” Tanya ku berusaha membuat suasana dalam mobil menjadi ramai lagi
“ayo naah !!” bujuk ku dengan sedikit memaksa





Sepulang sekolah, aku mengikuti Lucky dari belakang. Berharap dia mau berbicara lagi pada ku. Aku gak mau kehilangan teman. Apalagi gara-gara kayak kejadian tadi pagi aja.
Dia membiarkan ku masuk dalam mobilnya, dia membawa ku pergi. Jalanan ini jelas bukan jalanan menuju rumah ku, mungkin menepati janjinya semalam. Tapi sesampainya di gedung bertingkat 2 dan membelokan mobilnya kearah gedung tersebut, aku sedikit bingung. Jelas sekali gedung tersebut adalah rumah sakit, tapi bukan rumah sakit biasa. Ini adalah rumah sakit jiwa. Aku semakin bingung dibuatnya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun mengajak ku masuk kedalam rumah sakit. Siapa yang sakit ?  itu adalah pertanyaan pertama kali di benak ku. Rumah sakit jiwa lagi ini.
Sesampainya di resepsionis, suster pun sepertinya sudah mengenali Lucky, karna sempainya di sana Lucky hanya tersenyum tidak berkata apa-apa tapi suster tersebut membalas senyum Lucky dan membawa kami berdua ke arah belakang rumah sakit. Disana jelas membuat ku takut. Banyak pasien-pasien disana yang mengejar ngejar dan mengikuti ku. Lucky melindungi ku. Ia mencoba memeluk ku dari arah belakang. Dan berusaha membuat ku untuk tidak takut. Sesampainya di sebuah ruangan, suster itu berkata “hari ini ibu belum mau makan sama sekali mas. Mohon dibujuk ya”
“ibu ??” semakin membuat ku bingung
Lucky pun masuk ke ruangan itu duluan, aku hanya di depan pintu. Lucky membujuk ku. Namun aku menolak. Didalam ruangan tersebut ku lihat ada perempuan setengah baya duduk di kursi tepat di depan Jendela. Lucky pun berlutut di depan perempuan tersebut dan berkata “ibu kok belum makan ?”
Seketika membuat ku tercengang. Ibu ? apakah itu adalah ibunya ? terus selama ini perempuan yang datang kesekolah setiap pihak sekolah meminta orangtua datang kesekolah siapa ??
“bu, ade ngajak temen. Dia baik banget” ujar Lucky sambil mengayunkan tangannya bermaksud menyuruhku masuk ke ruangan tersebut. Aku pun akhirnya masuk. Aku masih penasaran. Sedari tadi aku belum perempuan itu dari depan.
“namanya Jenitha bu. Dia sahabat ade” kata Lucky sambil menarik tangan ku agar aku masuk dan memberi isyarat tidak ada yang harus di takutkan.
Kulihat perempuan itu dari samping. Rambutnya panjang ke pungung. Namun berantakan sekali. Kulihat wajahnya, ternyata perempuan ini cantik. Umurnya ku taksir sekitar 40 tahunan. Hidung perempuan tersebut mancung, matanya bagus, hitam pekat. Sekali lagi ku katakana perempuan ini cantik.
“ibu makan dulu ya. Ade suapin !!” ujar Lucky kepada perempuan itu.
Dengan sabar Lucky menyuapi perempuan itu dengan makanan yang di sediakan. Perempuan itu masih saja diam. Pandangannya kosong. Matanya hanya melihat lurus kedepan.
Selesai Lucky menyuapi perempuan itu, Lucky pun menyisirkan ramput perempuan tersebut dengan perlahan. Kini perempuan tersebut sudah rapi.
Tiba tiba perempuan tersebut berdiri dan berbalik arah. Melirik kearah ku. Jantung ku berdetuk dengan kencang. Aku takut. Aku belum pernah berhadapan secara langsung seperti ini. Namun perempuan itu langsung ke arah kasur. Perempuan itu pun seakan ingin tidur. Lucky pun membantu perempuan itu dengan memberikan selimut. Dan akhirnya Lucky pun mengajak ku pulang.
“tadi itu ibu ku” ujar Lucky saat di mobil
“ibu ku stress setelah bajingan itu menikah lagi. Menikah dan meninggalkan kami bertiga. Saat umurku 13 tahun, aku pernah nekat ke rumah barunya dan menghajar wanita pengahncur rumah tangga orangtua ku. Aku sudah benar-benar kehabisan kesabaran saat itu. Kini yang ku punya hanya ibu dan kakak perempuan ku Laila. Ia sudah benar-benar sibuk. Mencoba mengurusi ku dan mengurusi ibu ku. Terkadang aku kasihan pada nya, ingin rasanya aku membantu dia. Tapi aku hanya disuruh dirumah dan untuk gak terlalu banyak masalah dengan sekolah.”
Sesekali ku lirik dia saat bercerita. Terkadang aku hanya bisa bilang sabar. Namun aku tau keadaan seperti apa sebenarnya yang Lucky alami. Orang tuanya bercerai saat Lucky berusia 10 tahun. Orangtuanya menikah saat sang ibu baru berusia 16 tahun.
“si bajingan itu sekarang punya  2 anak perempuan, dan ternyata dengan mudahnya aku menghancurkan masa depan 2 anak perempuan itu !!” ujar Lucky
“maksudnya?” Tanya ku karna aku sedikit bingung
“ini maksud sebenarnya jadi playboy !!” jawabnya sambil melirik ku penuh arti
“anak kelas 2 yang kemaren ku putusin, itu adalah anak perempuannya yang ke2” jawabnya lagi
“kamu pikir, ibu mu senang dengan kelakuan mu sekarang ?” Tanya ku
“kalau aku jadi ibu mu, aku menangis. Melihat anak ku berkelakuan seperti ayahnya yang kamu katain bajingan itu !!”
“kamu gak sama kayak ayah mu. Mempermainkan perempuan !!! kamu senang sekarang ? puas ??” Tanya ku
Dia terdiam.
“kamu gak pernah mikir sampai situ kah ?”
Dia masih terdiam
“kamu mending berubah sekarang !!” ujar ku dengan nada pelan yang sedari tadi aku sudah emosi.
Dia gak menjawab. Ku biarkan dia diam agar dia mampu berpikir jernih. Sesampainya depan rumah ku, ku tawarkan dia untuk mampir. Namun dia hanya diam. Saat aku keluar dari mobilnya dan mau menutup pintu mobilnya, dia berkata pelan namun jelas “kamu lah yang membuat ku beruabah Jen!”
Kali ini aku yang terdiam.
Semalaman aku berfikir, aku harus bagaimana.





Keesokan paginya, ku pandangi bangku tempat aku dan Lucky duduk bersama. Dia belum datang. Tidak seperti biasanya. Biasanya dia selalu datang lebih awal dari pada aku. Aku duduk di bangku Lucky biasanya duduk. Ku letakan tas sekolah di bangku ku, seJenak aku diam. Sambil menunggu gelisah kedatangan Lucky.
Tak lama aku datang, ku lihat Justin dan Aria datang. Mereka datang bersama. Saat mereka melawati depan bangku ku, mereka kompak menyapa ku. Aku hanya tersenyum.
Ku lihat jam tangan ku, 7.05 am. ‘Dia kok belum datang ?’ Tanya ku dalam hati. Sesekali aku menghadap ke belakang. Ke arah Aria dan Justin. Tapi hari ini perhatian ku benar-benar terpaku terhadap Lucky. Kenapa dia belum datang ? sebenarnya apa yang terjadi ?
“kamu kenapa Jen ?” Tanya Justin yang ternyata sadar akan kegelisahan ku
“enggak” jawab ku sambil tersenyum
“kamu gak bisa bohong dari aku Jen” kata Justin sambil tersenyum licik
“aku sudah kenal kamu dari bayi !!” lanjut Justin
“mm ..”
“Lucky ya ?” ujar Aria memotong pembicaraan ku
“ha ???” aku terkejut. Kenapa dia bisa tau
“tau lah, Lucky kan naksir kamu dari kelas 1. Cumin ya itu, aku gak habis mikir aja, kenapa dia gak pernah bilang sama kamu ya ?” ujar Aria
“cieee jadi bener kamu sama Lucky ?” Tanya Justin
“apasihhh ? aku Cuma khawatir aja, kok dia belum datang ??” Tanya ku
“dia kan emang gak datang Jen” ujar Justin
“kok tau?” Tanya ku bingung
“tadi dia nitip surat izin ke aku. Itu sudah ku kasih sekertaris !!” jawab Justin sambil menatap mata ku.
Aneh, kenapa aku bisa membalas tatapan mata Justin ?? ini gak bisa. Sebelumnya aku gak pernah bisa membalas tatapan mata nya.
“Sep, boleh liat surat izinnya Lucky ?” Tanya ku kepada sekertaris kelas ku
“kenapa emang Jen ?” Tanya Septi
“bentar aja” jawab ku singkat. ‘Sakit ? bisa ajakah dia sakit ??’ Tanya ku pada diri sendiri.
‘Suratnya sih bilang dia lagi sakit. Tapi kemaren dia sehat walafiat loh.’ Ujar ku dalam hati
“makasih sep” ujar ku kepada septi dan septi pun membalas dengan senyum.
‘aku gak yakin kalau dia sakit. Pasti itu Cuma alasan. Aku yakin itu Cuma alasan !!’ ujar ku dalam hati.
“kok jadi peduli banget ma Lucky Jen ?” Tanya Justin saat ia mendatangi yang dari tadi aku duduk termengu di bangku ku.
“aku gak yakin aja kalau dia sakit tin” jawab ku
“kenapa gitu ?”  tanyanya lagi
“aku sendiri bingung tin” jawab ku sambil menatap mata Justin. Kali ini malahan aku duluan yang menatap mata Justin.
“namanya cinta cantikkkkkk” jawab Justin sambil mencubit pipi ku.
“aku gak suka sama dia Justin” ujar ku dengan sedikit mencubit pergelangan tangannya
“aku Cuma sedikit tertarik aja dengan kehidupannya. Mungkin ..” aku diam seJenak
“mungkin kenapa ?” Tanya Justin bingung
“mungkin ibunya !” jawab ku singkat
“ibunya kenapa ?” Tanya Justin
Aku pun berlari kearah septi lagi. Meminta pinjam surat izin yang Lucky buat. Ku baca lagi secara seksama ..
‘Bukan dia yang dia maksud sakit. Tapi ibunya !! selama ini aku mengaggap dia bodoh ternyata aku salah. Dia cerdas !! dia nyontek seluruh tugas ku bukan nyontek jawaban. Tapi dia hanya melihat soolnya. Matanya mungkin bertambah bersar min nya !!’ ujar ku dalam hati
“aku butuh dispen tin !!” ujar ku kepada Justin
“buat apa ?” Tanya Justin
“aku mau ngomong sama Lucky” jawab ku singkat
“kenapa gak tunggu besok aja sih. Besok dia juga datang” Tanya Justin
“aku mau sekarang !!!!” teriak ku kepada Justin
“iih bawelnya” ujar Justin
“bantuin aku sekali aja tin. Nda ngerepotin kamu lagi pang besok-besok aku” ujar ku
“tapi gak lebih dari sejam yaa !!!” ujar jastin dengan sedikit penekanan
“gak juga pang aku kabur” kata ku pada Justin
“ya tapi guru kan gak tau tentang itu !!” kata Justin
“iya iya deeh” ujar ku pasrah
“untung kamu punya temen yang deket ma guru” ujar Justin sambil memuji diri sendiri
“iya deket sama guru !!!” kata ku




Setelah mendapatkan surat izin guru, aku bergegas pergi. Waktu ku gak lebih dari 60 menit. Aku gak mau, status teman ku yang jadi anak kesayangan guru jadi hilang pamornya.
Aku kini baru sadar, sudah 3 tahun aku berteman dengan Lucky, kenapa aku gak pernah tau rumahnya ? kalau aku gak ketemu dia dirumah sakit berarti usaha ku sia-sia dong ?? mustahir pihak rumah sakit mau memberikan alamat rumah Lucky.
Sesampai ku dirumah sakit, ku parker sembarang motor ku. Letakan sembarangan helm ku. Gak peduli apabila nantinya helm itu jatuh. Aku berlari. Pihak reseptionis memanggil ku, ku biarkan. Pasien-pasien lain yang mengikuti ku, ku biarkan. Kali ini aku gak takut lagi dengan orang seperti mereka. Sesampai di ruangan ibu Lucky, aku diam seJenak. Tiba-tiba ada keraguan untuk membuka pintu itu. Akhirnya ku penuhi keyaninanku untuk membuka pintu ruangan itu. Dan ternyata ruangan itu kosong. Gak ada orang di dalamnya. Bahkan ibu Lucky pun tidak ada. ‘apa aku salah ruangan?’ Tanya ku pada diri sendiri. ‘ aku gak salah ruangan. Ini benar. Tapi kok gak ada ? mungkin benar kata Justin, lebih baik aku menunggunya besok saat masuk sekolah’ . tiba-tiba ..
“ngapain kamu disini Jen ?” Tanya seseorang dari arah belakang ku
“Lucky ?” ujar ku
Dia hanya diam
“kamu bisa bohongin anak kelas kalo kamu sakit, tapi kamu gak bisa bohongin aku” kata ku
“apa alasan mu sebenarnya gak masuk sekolah ?” Tanya ku
“aku mau minta maaf pada ibu ku. Aku ingin berada di sampingnya saat ini. Mungkin itu salah satu cara aku meminta maaf pada beliau” jawab nya
“minta maaf ?” Tanya ku sedikit bingung
“ibu ku menangis kan melihat aku seperti bajingan itu ?” kata Lucky mengulangi kata-kata ku
“dia akan selalu tersenyum melihat anaknya seperti ini sekarang.” Ujar ku
“benar kah ? kalau gitu kamu kesini ngapain ?” tanyanya
“mm ..”
“kamu menyukai ku saat ini ? sampai membuat mu ke sini pakai baju sekolah dan keadaan mu berantakan” ujarnya sambil berjalan mendekati ku
“aku memang menyukai mu ky” jawab ku
Dia hanya tersenyum.
“tapi kita Cuma bisa berteman ky” ujar ku dengan nada pelan
“berteman ? katanya ..”
“aku memang menyayangi mu, tapi Tuhan melarang kita bersama” ujar ku lagi
Aku dan dia pun hanya diam.
kenapa aku baru sadar sekarang ? yang membuat aku ingin melupakan Justin dari dulu karna aku dan dia gak seiman. Tapi aku dan Lucky ? ternyata sama. Aku dan dia gak seiman juga.
Lucky pun mendatangi ku, dan dia pun memeluk ku. Aku hanya diam. Gak tau harus kayak mana lagi. Lucky pun menyium kening ku dengan lembut. Tapi aku masih terdiam.
Setelah kelulusan sekolah, kami berempat berpisah. Aria lebih memilih ke menjadi pendeta. Mengikuti jejak ayahnya yang seorang pendeta. Lucky memilih langsung kerja. Ia membuat sebuah usaha tempat makan. Aku dan Justin pergi ke luar negeri untuk kuliah. Aku mengambil fakultas hokum. Dan Justin memilih untuk menjadi seorang dokter.
4,5 tahun aku dan Justin di Austria. Saat aku dan Justin kembali ke Indonesia, aku terkejut saat bertemu ke dua teman ku lagi. Aria menjadi sosok yang tenang dan santun setelah menjadi Pendeta, dan ternyata Lucky menjadi seorang mu’alaf ..




Sekian

0 komentar:

Posting Komentar